Senin, 27 Januari 2014

Sebuah cerpen yang dulunya mau saya lombakan, tapi batal karena sebuah kendala. Nikmati!

Arti Sebuah Persahabatan
Waktu terus berjalan, tak terasa setahun sudah aku menjadi seorang siswa SMP. Setahun bukanlah waktu yang singkat. Beragam aktivitas dan pengalaman kulewati bersama teman-temanku di sekolah. Maklum di usiaku menginjak remaja rasanya susah mencari pengalaman yang tidak menyenangkan, karena kami umumnya masih senang bercanda, bersenda gurau, dan sekali-sekali pergi bersama ke suatu tempat.
Suatu hari, aku dan beberapa teman sekelasku sedang asik ngobrol. Saat itu, baru saja kami usai mengikuti pelajaran olah raga. Tiba-tiba melintas seorang teman dari kelas lain namanya Ketut Wiranata. Aku sering memanggilnya Tut Wi. Rumahnya kebetulan berdekatan denganku, sehingga walau tidak sekelas kami sangat akrab. Dia seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana. Namun, Tut Wi adalah sosok anak remaja yang bersahaja, mandiri, dan cerdas. Dia selalu mendapat juara umum di sekolahku dan sepulang  sekolah ia punya kesibukan sendiri. Ia membantu ibunya berjualan di sekitar perumahan tempat tinggalnya.
“Hai Tut Wi,  mau ke mana, ini kan masih jam pelajaran kok sudah gendong tas?”, tanyaku. “Oh, Gung Ade. Ya, Gung aku permisi pulang duluan, karena Bapakku masuk rumah sakit”, jawabnya singkat sambil berlalu tanpa menghiraukan kami lagi. Begitu cepat langkahnya, hingga tidak sempat aku nanya lebih banyak lagi.
***
Sore itu di hari Minggu. Seperti biasa aku dan teman-temanku bermain bola di lapangan. Bapakku  pergi olah raga sore di pantai. Demikian juga kakakku, dia sibuk dengan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa. Sore itu di rumahku hanya ada ibuku sendirian. Dalam kesendiriannya, ibuku mengisinya dengan kegiatan nyapu dan bersih-bersih rumah.
“Pisang goreng … pisang goreng, masih hangat”. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup oleh ibuku suara pedagang jajan. Ibuku tetap asik dengan sapunya menyapu halaman tanpa mempedulikan suara pedagang itu yang semakin mendekat. Sampai akhirnya suara itu berhenti di depan gerbang rumahku. “Pisang goreng Bu, masih hangat. Beliin satu ya, Bu”, kata pedagang itu seolah memelas kepada ibuku sambil membuka kertas koran penutup dagangannya.
Ibuku menatap sesaat pedagang itu sambil mengingat-ingat sepertinya pernah dilihatnya anak itu. Maklum ibuku setiap hari menjemputku di sekolah, mungkin saja pernah melihat sosok anak seperti pedagang itu. Sambil menggelengkan kepalanya, ibuku berkata,”Maaf Nak, saya tidak berniat membeli pisang goreng”.
Pedagang itu tersenyum kecut. Tampak di wajahnya kekecewaan lalu berujar,”Tidak apa-apa Bu, mungkin lain kali bisa beli”. Sambil menutup dagangannya kembali dengan kertas Koran, ia pun melangkahkan kakinya beranjak dari depan rumahku.
Ibuku memang perasa sekali dan cepat merasa iba. Begitu melihat wajah pedagang itu yang sedikit kecewa, cepat-cepat  ibuku berkata,”Bukannya saya tidak mau membeli, Nak. Tapi karena baru saja ibu selesai membuat pisang goreng. Jadi, mubazir kalau ibu beli”.
Pedagang itu sekali lagi berusaha tersenyum, meski guratan kekecewaan masih terlihat di wajahnya. “Terima kasih Ibu tidak apa-apa. Saya pamit dulu Bu”.
Ibuku menganggukkan kepalanya lemah. Ditatapnya pedagang itu dengan perasaan kasihan. Penampilan pedagang itu tampak sederhana dan bersahaja. Tentu ia berasal dari keluarga yang sederhana pula. Ibuku merasa semakin iba dan teringat aku, karena pedagang itu seusiaku. “Ah, maafkan Ibu, Nak. Belum bisa membantumu”.
Pedagang itu berpaling lagi ke arah ibuku, lalu tersenyum yang dipaksakan. Lagi-lagi ibuku merasa tidak enak. Dan pedagang itu pun melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah saja beranjak dari depan gerbang rumahku, aku datang dari lapangan bola. Bajuku basah oleh keringat dan aku  membawa bola. Betapa kagetnya aku. Tanpa kusangka dan kuduga di depanku telah berdiri seorang pedagang pisang goreng yang tak lain adalah temanku sendiri di sekolah. Dia adalah Ketut Wiranata yang sering kusapa Tut Wi.
“Lo, ada kamu di sini, Tut?” tegurku seraya masih terheran-heran ketika melihat anak itu. Rasanya aku tidak percaya yang ada di depanku adalah sahabatku sendiri. Memang aku sering dengar Tut Wi membantu orang tuanya berdagang, tapi tidak kusangka berdagang keliling menjajakan pisang goreng. Anak itu menghentikan langkahnya.
“Ya Gung Ade. Aku sedang membantu menjajakan dagangan ibuku berkeliling,” katanya sambil sedikit tersipu agak malu. Cepat-cepat kutarik tangannya, kuajak ia duduk di depan rumahku. Kebetulan di depan rumahku ada tempat duduk yang biasanya aku gunakan duduk-duduk bersama teman-teman.
“Tut nggak usah kamu malu kayak gitu, baru kulihat menjajakan dagangan ibumu. Aku tak kan cerita ke siapa pun di sekolah,” ujarku sambil mencoba mencairkan suasana batin Tut Wi yang tampaknya bergejolak. “Tut, aku salut punya teman sepertimu. Kamu seorang anak yang ulet, jujur, dan pintar. Bahkan kamu termasuk anak yang mandiri. Di usiamu yang masih remaja ini kamu sudah merintis usaha untuk menyongsong masa depanmu. Dan yang lebih penting, kamu anak yang berbakti kepada orang tuamu”, kataku seperti orang tua yang menasihati anaknya.
“Ah, Gung Ade  bisa aja. Aku nggak malu kok dengan kondisi ini. Kalau malu mungkin kita tidak bertemu seperti ini. Aku hanya ingin membantu orang tuaku. Lagian kegiatan ini kulakukan di waktu-waktu senggang,” ujarnya dengan senyum yang sedikit dipaksa. “Oh, ya. bagaimana kedaan Bapakmu, apa sudah sehat?” tanyaku menanyakan kondisi ayahnya yang sebelumnya dibilang masuk rumah sakit. “Syukurlah Gung, sakit ayahku tidak parah. Dan sekarang sudah sembuh,” urainya.
Saat kami asik ngobrol, ibuku nongol dari pintu gerbang. Rupanya beliau mengintip obrolan kami tadi. “Oh, ternyata kamu satu sekolah dengan Gung Ade, ya Nak. Pantesan dari tadi ibu selalu mengingat-ingat rasanya pernah bertemu denganmu. Tapi entah di mana. Siapa namamu Nak?” celoteh ibuku. “Ketut Wiranata, Bu,” kata Tut Wi menjawab pertanyaan ibuku.
 Ibuku kemudian berujar,”Gung Ade, jangan Tut Wi diajak ngobrol terus, kasihan dagangannya nanti nggak habis. Ayo, ambil uang dan beli pisang gorengnya. Kasihan Ketut.” Ibuku merasa iba kepada Tut Wi, lebih-lebih setelah tahu bahwa ia adalah teman sekolahku. Walaupun sebenarnya di rumah sudah ada pisang goreng.
Tanpa pikir panjang aku beranjak masuk. Ketika aku mengambil uang ke dalam rumah, rupanya ibuku juga sempat ngobrol dengan Tut Wi. “Wah, kamu anak yang hebat Tut. Kamu anak yang rajin dan berbakti kepada orang tuamu. Tentu orang tuamu bangga punya anak sepertimu”, kata ibuku. “Terima kasih Bu. Nggak juga Bu, aku biasa-biasa saja. Ini kulakukan sekedar mengisi waktu luang dan hitung-hitung bantu orang tuaku”, ujar Tut Wi menimpali pujian ibuku. “Kamu tinggal di mana”, lanjut ibuku ingin tahu lebih jauh tentang Tut Wi. “Saya tinggal di perumahan sebelah Bu, tidak jauh koq dari sini,” ujar Tut Wi.
Saat ibuku dan Tut Wi sedang ngobrol aku keluar bawa uang dan siap membeli pisang goreng Tut Wi. Saat itu pula teman-teman sepermainanku di lapangan tadi datang. Aku juga mengajak mereka untuk membeli pisang goreng Tut Wi. Mereka ikut duduk di sampingku sambil membeli pisang goreng Tut Wi. “Wah pisang gorengnya masih hangat dan enak. Besok lagi dagang ke sini ya!” kata Putra tetanggaku. “Ya, besar-besar lagi,” Gilang temanku yang lain menimpali. Kami pun menikmati pisang goreng Tut Wi bersama-sama.
Tak terasa, akhirnya dagangan Tut Wi habis terjual di depan rumahku. Dan teman-temanku juga kuperkenalkan dengan Tut Wi. Kami sempat ngobrol bersama-sama tentang berbagai hal termasuk pelajaran di sekolah. Tut Wi  memang anak yang senang dan pintar bergaul, sehingga cepat akrab dengan teman-temanku tanpa merasa ada perbedaan di antara kami. Ia tidak risih dan canggung, walau baru kenal.
***
Waktu sudah menunjukkan jam enam sore, kami pun bubaran.”Terima kasih Gung Ade, kamu telah membantu saya hingga daganganku habis terjual. Kamu memang sahabatku yang baik” kata Tut Wi sambil merapikan tempat dagangannya. “Ya, Tut sama-sama. Sudah menjadi kewajiban kita saling menolong sesama teman Tut. Semoga usahamu terus berkembang,” sahutku menimpalinya. Ia juga tak lupa pamitan kepada ibuku.
“Ibu … Ibu… Terima kasih ya, atas bantuan Ibu, telah membeli pisang goreng saya,” katanya sambil pamitan kepada ibuku. “Ya, Tut sama-sama. Nanti main-main ke sini sama Gung Ade,” ujar ibuku sambil berjalan ke depan menghampiri Tut Wi. Tut Wi pun beranjak melangkah meninggalkan aku dan ibuku yang masih menyimpan perasaan salut kepadanya.
 Ibuku berujar, ”Gung, kamu harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa tadi. Maksud Ibu, kamu sudah menunjukkan sikap yang baik terhadap teman. Kamu tidak membeda-bedakan teman. Dan itu sikap yang patut dipupuk sebagai bukti sebuah persahatan. Kita tidak boleh membeda-bedakan teman. Sahabat yang sejati adalah sahabat ketika kita sama-sama merasakan baik suka maupun duka tanpa melihat status sosialnya. Inilah arti sebuah persahabatan sejati”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar